Senin, 22 Juni 2015

Usiaku Berkurang, Syukur Nikmat

6 Ramadlan 1436 H/23 Juni 2015
Cluster Pulo Mas, 05.22

Alhamdulillah, 42 tahun usiaku menuju pengabdian hakiki. Nikmat hidup yang tiada terkira, syukur yang tak pernah habis dalam menjalani hidup atas ridlo dan kehendak-Nya.

Maha Suci Alloh, yang masih memperkenankan hamba-Nya ini untuk menghirup udara subuh, yang masih memberikan kesempatan hamba-Nya untuk memperbaiki diri, yang masih melapangkan rejeki-Nya kepada hamba yang fakir ini, yang selalu menjaga hamba-Nya agar selalu bersyukur atas nikmat sehat, iman, dan islam hingga detik ini. Alhamdulillah ....

Yaa Rabb, jadikanlah aku orang yang selalu khusuk dan tawadhu' dalam menerima hikmah serta berkah-Mu. Terima kasih, Engkau telah memperpanjang umur duniaku setahun lagi, aku tak pernah tahu sebatas mana usia yang Kau~berikan kepada hamba-Mu ini. Namun, hamba mohon, yaa Rabb, beri hamba kesempatan panjang untuk berbuat lebih baik lagi dalam menjalani sisa episode kehidupan ini.

Rasa syukur yang tak terhingga, waktu luar biasa yang Kau~luangkan kepadaku, yaa Alloh. Terima kasih atas semua jalan yang Kau~lapangkan, segala kesulitan yang telah Kau~mudahkan. Matur nuwun sangengkau Maha Kuasa, Pemilik Alam Semesta. Engkau bisa mengambil apa saja dariku yang menurut-Mu tidak baik, Kau~ganti sesuai dengan kebutuhanku bukan keinginanku. Dengan begitu, aku belajar untuk percaya bahwa apa yang Engkau berikan adalah yang terbaik, bagi duniaku dan akhiratku.

Yaa Alloh, kupasrahkan setiap tarikan nafas, kedipan mata, hentakan langkah, dan suara hati hanya kepada-Mu.
Semoga hari ini menjadi semangat baru, hamba menjadi manusia yang lebih baik dengan keberkahan-Mu. Aamiin ....

Bismillah ....
Hamba berdoa kepada-Mu, yaa Alloh
Berilah kesehatan, kebahagiaan, umur yang barokah kepada ibu hamba, mertua hamba. Limpahkan kasih sayang-Mu kepada beliau. Aamiin ....

Yaa Rabb, ampunilah dosa, salah, dan khilaf almarhum Bapak, berilah tempat terbaik untuk beliau. Sayangi Bapak seperti beliau menyayangi hamba saat masih kecil hingga dewasa. Aamiin ....

Yaa Ghaffaar, ampuni segala dosa, maafkan semua salah dan khilaf hamba yang hina ini, karena hamba sangat malu menghadap-Mu dengan berlumur dosa. Ampuni dosa-dosa hamba, yaa Alloh. Aamiin ....

Yaa Salaam, yaa Rozzaaq, sejahterakanlah sisa hidup hamba, jadikan hamba termasuk orang yang senantiasa bersyukur atas rejeki dan anugerah yang Engkau berikan; Ananda-ananda yang solih-solihah, suami yang sabar dan selalu membimbing dalam kebaikan, orang tua dan saudara yang selalu memberi support, sahabat-sahabat yang tiada lelah meluruskan niat hamba menjalani kehidupan. Terima kasih, Rabb, nikmat yang tidak mungkin hamba dustakan. Fa bi ayyi ala'i Rabbikuma tukazziban .... (La bisyay-in min alaika Rabba akzibu ~ tidak ada stupun nikmat-Mu, yaa Rabb, yang hamba dustakan)

Yaa Fattaah, hamba ingin menjadi lebih baik untuk agama, keluarga, orang-orang yang hamba cintai dan mencintai hamba karena-Mu. Ridloi setiap hembusan nafas hamba, detak jantung hamba, bisikan qolbu hamba, kecapan rasa hamba, kedipan mata hamba, hentakan langkah hamba, uluran tangan hamba, tutur kata hamba, dan segala tindakan hamba yang hanya mengharap ridlo-Mu, lillahi ta'ala. Aamiin Allohumma aamiin ....

Melewati ... 6 Ramadlan 1436 H

Bismillah ....
Ah,  menetes lagi. Sepertinya, belum lenyap rasa itu menyesakkan dada. Atau, aku memang yang tidak ingin ia pergi aku masih ingin diam. Entah, sampai kapan. Ya, hari ini tetes airmata tanpa izin memenuhi penglihatan. Sedih belum beranjak dari peraduannya. Tidak ada sesal, tapi sering terlintas kebodohan-kebodohan yang pernah melalui hari-hariku.

Belum banyak perubahan berarti dalam hidupku. Jika merujuk penanggalan Hijriyah, hari ini usiaku 41 tahun, 11 bulan, 28 hari. Berarti, kalau bulan ini 29 hari, besok usiaku 42 tahun. Ya, tepat 6 Ramadlan 1394 H, aku dilahirkan dari rahim seorang ibu bernama Marisah. Wanita tegar, tabah, dan kuat dalam menjalani peristiwa kehidupan.

Alhamdulillah, di usia yang semakin menua ini, Alloh SWT. masih memberiku kesehatan dan kesempatan menghirup kenikmatan dunia. Meskipun, tidak dapat aku tepis kerikil bahkan batu-batu tajam mewarnai perjalanan hidupku. Semua, memang, sering kulewati dengan keluh kesah, yang ternyata memperparah titian di atas kaki dan langkahku. Astaghfiullah ....

[kiriman tertunda, 22 Juni 2015, 18.13, Cluster Pulo Mas]